Senin, 12 Mei 2014

Pendekatan keterampilan proses


Pendekatan keterampilan proses

Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Semiawan, 2002).Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini.
Pendekatan keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual. Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun menurut urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa.
Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis. Alasannya tentulah sederhana, yaitu agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang ada dalam pikiran dan mampu mengorganisasikannya. Dengan demikian, keberhasilan anak dalam belajar sains menggunakan pendekatan keterampilan proses adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak yang belum paham terhadap permasalahan sains yang sedang dipelajari sehingga menjadi paham dan mengerti permasalahannya.

Perinsip Pendekatan Keterampilan Proses

Menurut (Semiawan, 2002), terdapat sepuluh keterampilan proses yaitu : (1) kemampuan mengamati, (2) kemampuan menghitung, (3) kemampuan mengukur, (4) kemampuan mengklasifikasi, (5) kemampuan menemukan hubungan, (6) kemampuan membuat prediksi (ramalan), (7) Kemampuan melaksanakan penelitian (percobaan), (8) kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data, (9) kemampuan menginterpretasikan data, dan (10) kemampuan mengkomunikasikan hasil.

Kemampuan mengamati, merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tidak sama dengan kegiatan melihat. Pengamatan dilaksanakan dengan memanfaatkan seluruh panca indera yang mungkin biasa digunakan untuk memperhatikan hal yang diamati, memilah-milah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga berdasarkan tujuan pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menuliskan hasilnya.

Kemampuan menghitung, dalam pengertian yang luas, merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari dapat dikatakan bahwa dalam semua aktivitas kehidupan manusia memerlukan kemampuan ini.

Kemampuan mengukur, diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, dimana seseorang dapat mengetahui sesuatu yang diamatinya dengan mengukur apa yang diamatinya.

Kemampuan mengklasifikasi, merupakan kemampuan mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi, dan gagasan. Pengelompokkan ini didasarkan pada karakteristik atau ciri-ciri yang sama dalam tujuan tertentu, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Kemampuan menemukan hubungan, Kemampuan ini merupakan kemampuan penting yang perlu dikuasai oleh siswa. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah: fakta, informasi, gagasan, pendapat, ruang, dan waktu. Kesemuanya merupakan variabel untuk menentukan hubungan antara sikap dan tindakan yang sesuai.

Kemampuan Membuat Prediksi (Ramalan), Ramalan yang dimaksud di sini bukanlah sembarang perkiraan, melainkan perkiraan yang mempunyai dasar atau penalaran. Kemampuan membuat ramalan atau perkiraan yang di dasari penalaran baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam teori penelitian, kemampuan membuat ramalan ini disebut juga kemampuan menyusun hipotesis. Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. Dalam kerja ilmiah, seorang ilmuwan biasanya membuat hipotesis yang kemudian diuji melalui eksperimen.

Kemampuan Melaksanakan Penelitian (Percobaan), Penelitian merupakan kegiatan para ilmuwan di dalam kegiatan ilmiah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari penelitian (percobaan) merupakan kegiatan penyelidikan untuk menguji gagasan-gagasan melalui kegiatan eksperimen praktis. Kegiatan percobaan umumnya dilaksanakan dalam mata pelajaran eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi. Sedangkan untuk mata pelajaran non eksakta, kegiatan yang biasa dilakukan adalah penelitian sederhana yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan.

Kemampuan Mengumpulkan dan Menganalisis Data, Kemampuan ini merupakan bagian dari kemampuan melaksanakan penelitian. Dalam kemampuan ini, siswa perlu menguasai bagaimana cara-cara mengumpulkan data dalam penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.

Kemampuan menginterpretasikan data, Dalam kemampuan ini, siswa perlu menginterpretasikan hasil yang diperoleh karena kemampuan mengkomunikasikan hasil. Kemampuan ini merupakan salah satu kemampuan yang juga harus dikuasai siswa. Dalam kemampuan ini, siswa perlu dilatih untuk mengkomunikasikan hasil penemuannya kepada orang lain dalam bentuk laporan penelitian, paper, atau karangan.

Alasan Perlunya Penerapan Keterampilan Proses

Semiawan dkk, (1985: 15-16) merinci alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari :

·         Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa diberi bekal keterampilan proses yang dapat mereka gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tanpa tergantung dari guru.
·         Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata.
·         Tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi menggiring anak untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri.
·         Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar 100 %, penemuannya bersifat relatif. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data baru yang mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi, teori baru yang prinsipnya mengandung kebenaran yang relatif. Jika kita hendak menanamkan sikap ilmiah pada diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Dengan perkataan lain anak perlu dibina berpikir dan bertindak kreatif.
·         Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak-anak didik. Konsep disatu pihak serta sikap dan nilai di lain pihak harus dikaitkan. (Semiawan dkk, 1985 : 15-16).

Langkah-langkah Pelaksanaan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses adalah suatu cara untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan sikap dan nilai. (Conny Semiawan, 2002: 16)
Pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan beberapa langkah, sebagai berikut:

a.       Observasi
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengamatan yang terarah tentang gejala atau fenomena sehingga mampu membedakan yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan pokok permasalahan.Pengamatan di sini diartikan sebagai penggunaan indera secara optimal dalam rangka memperoleh informasi yang lengkap atau memadai.
b.      Mengklasifikasikan
Kegiatan ini bertujuan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu.
c.       Menginterpretasikan atau menafsirkan data
Data yang dikumpulkan melalui observasi, perhitungan, pengukuran, eksperimen, atau penelitian sederhana dapat dicatat atau disajikan dalam berbagai bentuk, seperti tabel, grafik, diagram.
d.      Meramalkan (memprediksi)
Hasil interpretasi dari suatu pengamatan digunakan untuk meramalkan atau memperkirakan kejadian yang belum diamati atau kejadian yang akan datang. Ramalan berbeda dari terkaan, ramalan didasarkan pada hubungan logis dari hasil pengamatan yang telah diketahui sedangkan terkaan didasarkan pada hasil pengamatan.
e.       Membuat hipotesis
Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu.Penyusunan hipotesis adalah salah satu kunci pembuka tabir penemuan berbagai hal baru.
f.       Mengendalikan variabel
Variabel adalah faktor yang berpengaruh.Pengendalian variabel adalah suatu aktifitas yang dipandang sulit, namun sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Hal ini tergantung dari bagaimana guru menggunakan kesempatan yang tersedia untuk melatih anak mengontrol dan memperlakukan variabel.
g.       Merencanakan penelitian / eksperimen
Eksperimen adalah melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan apakah hipotesis yang diajukan sesuai atau tidak.
h.      Menyusun kesimpulan sementara
Kegiatan ini bertujuan menyimpulkan hasil percobaan yang telah dilakukan berdasarkan pola hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang lainnya.
i.        Menerapkan (mengaplikasikan) konsep
Mengaplikasikan konsep adalah menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau dalam menyelesaikan suatu masalah,misalnya sesuatu masalah yang dibicarakan dalam mata pelajaran yang lain.
j.        Mengkomunikasikan
Kegiatan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan proses dari hasil perolehan kepada berbagai pihak yang berkepentingan, baik dalambentuk kata-kata, grafik, bagan maupun tabel secara lisan maupun tertulis.

Praktik pengajaran dengan PKP menuntut perencanaan yang sungguh-sungguh dan berkeahlian, kreatif dalam pelaksanaan pengajaran, cakap mendayagunakan aneka media serta sumber belajar. Jadi guru bersama siswa semakin dituntut bekerja keras agar praktik PKP berhasil efektif dan efisien.
Ilmu pengetahuan alam memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah di alam sekitar melalui proses dan sikap ilmiah. Pembelajaran IPA seperti yang tertuang dalam kurikulum 2006, yaitu pembelajaran yang berorientasi pada hakikat IPA yang meliputi produk, proses, dan sikap ilmiah melalui keterampilan proses.
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa pembelajaran IPA lebih menekankan pada pendekatan keterampilan proses sehingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori dan sikap ilmiah di pihak siswa yang dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan.
Pembelajaran IPA selama ini lebih banyak menghafalkan fakta, prinsip, dan teori saja. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi pembelajaran IPA yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka.
Pengembangan pendekatan keterampilan proses merupakan salah satu upaya yang penting untuk memperoleh keberhasilan belajar yang optimal. Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai dan dihayati oleh siswa, bila siswa sendiri mengalami peristiwa belajar tersebut. Selain itu, Usman dan Setiawati, 2000: 79) mengemukakan tujuan pendekatan proses adalah sebagai berikut :
·         Pengamatan, yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan indera.
·         Menggolongkan (mengklasifikasikan), yaitu keterampilan menggolongkan benda, kenyataan, konsep, nilai atau kepentingan tertentu. Untuk membuat penggolongan perlu ditinjau persamaan dan perbedaan antara benda, kenyataan, konsep sebagai dasar penggolongan.
·         Menafsirkan (menginterpretasikan), yaitu keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda, kenyataan, peristiwa, konsep dan informasi yang telah dikumpulkan melalui pengamatan, penghitungan, penelitian atau eksperimen.
·         Meramalkan, yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecenderungan, pola tertentu, hubungan antar data, atau informasi. Misalnya, berdasarkan pengalaman tentang keadaaan cuaca sebelumnya, siswa dapat meramalkan keadaan cuaca yang akan terjadi.
·         Menerapkan (aplikasi) yaitu menggunakan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori dan keterampilan. Melalui penerapan hasil belajar dapat dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan atau dihayati.
·         Merencanakan penelitian, yaitu keterampilan yang amat penting karena menentukan berhasil tidaknya melakukan penelitian. Keterampilan ini perlu dilatih karena selama ini pada umumnya kurang diperhatikan dan kurang terbina.
·         Mengkomunikasikan, yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan.

Sementara itu Darmodjo dan Kaligis, (2002: 52) merinci keterampilan-keterampilan proses dalam pendidikan IPA itu meliputi :

·         Keterampilan mengobservasi yang meliputi kemampuan untuk dapat “membedakan”, “menghitung” dan “mengukur”.
·         Keterampilan mengklasifikasi, yang meliputi menggolong-golongkan atas dasar aspek-aspek tertentu, serta kombinasi antara menggolongkan dengan mengurutkan.
·         Keterampilan menginterpretasi, termasuk menginterpretasi data, grafik, maupun mencari pola hubungan yang terdapat dalam pengolahan data.
·         Keterampilan memprediksi, termasuk membuat ramalan atas kecenderungan yang terdapat dalam pengolahan data.
·         Keterampilan membuat hipotesis, meliputi kemampuan berpikir deduktif dengan menggunakan konsep-konsep, teori-teori maupun hukum-hukum IPA yang telah dikenal.
·         Keterampilan mengendalikan variabel, yaitu upaya mengisolasi variabel yang tidak diteliti sehingga adanya perbedaan pada hasil eksperimen adalah dari variabel yang diteliti.
·         Keterampilan merencanakan dan melakukan penelitian, eksperimen yang meliputi penetapan masalah, membuat hipotesis, menguji hipotesis.
·         Keterampilan menyimpulkan atau inferensi, yaitu kemampuan menarik kesimpulan dari pengolahan data.
·         Keterampilan menerapkan atau aplikasi, atau menggunakan konsep atau hasil penelitian ke dalam perikehidupan dalam masyarakat.
·         Keterampilan mengkomunikasikan, yaitu kemampuan siswa untuk dapat mengkomunikasikan pengetahuannya, hasil pengamatan, maupun penelitiannya kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis.

Penilaian Keterampilan Proses IPA

Surapranata (2004) mengemukakan berbagai bentuk penilaian yang dapat digunakan, khususnya dalam penilaian berbentuk kelas, yakni:
(1). Tes tertulis.
Tes ini umumnya diberikan pada saat penilaian formatif maupun submatif yang mengungkap aspek kognitif siswa.Bentuknya dapat berupa uraian (essay), pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau isian/jawaban singkat.

(2). Tes perbuatan
Tes ini diberikan pada saat satu kegiatan sedang berlangsung dengan melakukan pengamatan pada perilaku peserta didik yang ingin dinilai.

(3). Pemberian tugas
Bentuk penilaian ini dilakukan terutama untuk mengembangkan kreativitas siswa sesuai dengan bakat, minat, dan tingkat perkembanganya.

(4). Penilaian proyek
Penilaian ini didesain untuk suatu kegiatan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu yang biasanya dimulai dari pengumpulan data, pengorganisasian, pelaporan dan penyajian data.

(5). Penilaian sikap
Penilaian ini berkaitan dengan berbagai obyek sikap, misalnya sikap terhadap bidang studi, sikap terhadap guru, atau sikap terhadap materi pembelajaran. Pengukuran dapat di lakukan dengan observasi, laporan pribadi, dan skala sikap.

(6). Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian terhadap karya siswa yang disusun secara sistematis dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa dalam mata pelajaran tertentu.

Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Keterampilan Proses

Adapun keunggulan dan kelemahan pendekatan keterampilan proses, adalah:
1) Keunggulan
Samatowa (2006:138) mengemukakan bahwa keunggulan pendekatan keterampilan proses adalah :

·         Siswa terlibat langsung dengan objek nyata sehingga dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran,
·         siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari,
·         melatih siswa untuk berpikir lebih aktif dalam pembelajaran,
·         mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru,
·         memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan metode ilmiah.

Menurut Sagala (2003:74-75), keunggulan pendekatan keterampilan proses, adalah:

·         Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, yang sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan dan masa depan,
·         pendahuluan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berpikir dan cara memperoleh pengetahuan.

2) Kelemahan
Sedangkan kelemahan pendekatan keterampilan proses, dikemukakan oleh Sagala (2003:75), sebagai berikut:

·         Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyesuaikan bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum,
·         memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat menyediakannya,
·         merumuskan masalah, menyusun hipotesis, merancang suatu percobaan untuk memperoleh data yang relevan adalah pekerjaan yang sulit, tidak setiap siswa mampu melaksanakannya.

Pendekatan keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual. Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun menurut urutan yang logis dan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis.

Kegiatan pembelajaran ipa dengan menggunakan pendekatan

KEGIATAN PEMBELAJARAN IPA DENGAN PENDEKATAN IPA

MODEL KONSTRUKTIVISME

Kelas/Semester      :   III/I
Materi                     : Perbedaan Makhluk Hidup Dengan Benda Tak Hidup Berdasarkan Ciri - Cirinya
Alokasi Waktu       :   2x35 Menit

A.       Tujuan Pembelajaran :
1.        Melalui tanya jawab, siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup dan benda tak hidup dengan benar.
2.     Melalui pembelajaran terbimbing siswa mampu mengkategorikan ciri-ciri makhluk hidup dan benda tak hidup dengan benar.
3.    Melalui kajian materi siswa dapat membedakan ciri makhluk hidup dan benda tak hidup dengan tepat.
4.    Melalui diskusi kelompok, siswa mengklasifikasikan yang termasuk kedalam makhluk hidup dan benda tak hidup dengan teliti secara kooperatif.

B.       Langkah – Langkah Kegiatan
No
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
1.
Pendahuluan
1.    Mengajak semua siswa berdoa dan menanyakan kabar mereka.
2.    Mengecek kerapian pakaian, merapikan tempat duduk dan mengecek kehadiran siswa.
3.    Menyerukan yel-yel dan memberi motivasi berupa pentingnya hubungan antara makhluk hidup.
4.    Memberikan apersepsi berupa mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari (sebelumnya sudah membahas ciri-ciri makhluk hidup) maka kali ini belajar “Perbedaan Makhluk Hidup dengan Benda Tak Hidup Berdasarkan Ciri-cirinya”.
Misal :
·      Apakah perbedaan makhluk hidup dengan benda tak hidup?
5.    Menyampaikan tujuan pembelajaran.
6.    Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.




5 menit


















2.
Inti
A.  Tahap Awal
1.    Guru memusatkan perhatian siswa untuk memulai materi pembelajaran, bisa dengan memberi pertanyaan dahulu.
B.  Eksplorasi
1.    Guru meminta siswa untuk mengeluarkan bahan yang akan dipakai dalam pembelajaran kali iji yang telah disepakati dalam pertemuan kemarin.
2.    Setelah semuanya dipersiapkan guru menanyakan kepada siswa bahan apakah yang dibawa? (yaitu makhluk hidup berupa tumbuhan dan benda tak hidup berupa alat tulis).
3.    Guru meminta siswa untuk menganalisis ciri bahan yang telah dibawa sehingga dapat dikategorikan berdasarkan ciri-ciri dari makhluk hidup dan benda tak hidup.
4.    Guru meminta beberapa siswa untuk menyampaikan bahan yang telah dianalisis dan dikategorikan berdasarkan ciri dari makhluk hidup dan benda tak hidup.
5.    Guru mengarahkan siswa dalam menyampaikan pengkategorian berdasarkan makluk hidup dan benda tak hidup.
C.  Diskusi dan Penemuan Konsep
1.    Guru menjelaskan materi pembelajaran dengan bahan tersebut, dengan menguatkan dan membenarkan pendapat siswa.
2.    Guru mengajukan pertanyaan berupa :
Mengapa biji jagung yang kecil dapat tumbuh menjadi tumbuhan jagung?
Kemudian guru memberi alasan dengan menggambarkan pertumbuhan jagung dari biji hingga menjadi tanaman jagung. Dimana tumbuhan jagung ini merupakan kategori makhluk hidup yang dapat tumbuh.
3.    Guru meminta siswa untuk mengamati diluar kelas yang termasuk makhluk hidup dan benda tak hidup denagn membagi kelas kedalam 5 kelompok.
4.    Guru menginstruksikan masing-masing kelompok untuk mengklasifikasikan yang diamati kedalam makhluk hidup dan benda tak hidup berdasarkan ciri-ciri yang diamati.
5.    Secara kooperatif siswa melakukan pembelajaran dengan tetap diawasi dan dibimbing oleh guru.
6.    Untuk memperkuat hasil pengamatan siswa diminta untuk mencari rujukan dari buku atau sumber lain berdasarkan konsep yang telah ada.

D.  Pengembangan dan Aplikasi Konsep
1.    Guru meminta siswa untuk menulis hasil pengamatan (bisa dikembangkan dengan menuliskan tabel makhluk hidup dan benda tak hidup).
2.    Konsep (ciri makhluk hidup dan benda tak hidup) siswa dapat menyampaikan atau menyajikan hasil pengamatan dari pembelajaran diluar yang telah dilihatnya (riil atau nyata).










60 menit

3.
Penutup
1.      Bersama – sama siswa membuat rangkuman belajar dalam sehari.
2.      Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari.
3.      Penilaian terhadap pembelajaran dan membimbing siswa merefleksi diri sendiri atas pembelajaran yang telah berlangsung.
4.      Guru memberikan tugas atau PR kepada siswa.
5.      Guru menginformasikan kegiatan belajar yang akan datang.
6.      Guru mengajak siswa untuk berdoa (mengakhiri kegiatan pembelajaran)








5 menit





MODEL KETERAMPILAN PROSES

Kelas/Semester         :   IV/I
Materi                        :   Sifat, Wujud, dan Kegunaan Benda
Alokasi Waktu          :   2x35 Menit

A.       Tujuan Pembelajaran :
1.    Melalui penyampaian pembelajaran, siswa mampu menunjukkan wujud benda yang diikuti dengan perubahan wujud benda dengan benar.
2.    Melalui tanya jawab, siswa mampu mengklasifikasikan wujud benda berdasarkan sifat benda secara tepat.
3.    Melalui sumber relevan, siswa mampu menghubungkan sifat benda dengan kegunaannya secara teliti.
4.    Melalui percobaan, siswa terlibat langsung dalam kemampuan membuktikan adanya perubahan wujud benda secara benar.
5.    Melalui penerapan konsep, siswa mampu mengaplikasikan kegunaan dari wujud benda dalam kehidupan secara benar.

B.       Langkah – Langkah Kegiatan
No
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
1.
Pendahuluan
1.    Mengajak semua siswa berdoa dan menanyakan kabar mereka.
2.    Mengecek kerapian pakaian, merapikan tempat duduk dan mengecek kehadiran siswa.
3.    Menyerukan yel-yel dan memberi motivasi berupa pemanfaatan benda yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
4.    Memberikan apersepsi berupa mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari (sebelumnya sudah membahas mengenai makhluk hidup dan lingkungan, maka kali ini akan belajar mengenai sifat, wujud, dan kegunaan benda.
Misal :
·      Benda di lingkungan sekitar apa saja yang dapat dimanfaatkan ?
·      Apakah kegunaan dari benda – benda yang ada di lingkungan bagi makhluk hidup ?
5.    Menyampaikan tujuan pembelajaran.
6.    Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.




5 menit


















2.
Inti
A.    Mengamati
1.      Guru memperlihatkan bahan yang telah dibawa oleh guru kepada siswa, yaitu : (penghapus, tas, pensil, buku, kayu, bola plastik, bola sepak, air, botol, balon yang telah ditiup, air sirup, air garam, penggaris es batu)
B.     Mengklasifikasikan
1.      Guru berusaha mengajak siswa untuk mengklasifikasikan wujud benda berdasarkan sifat benda melalui bahan yang dibawa oleh guru.
C.     Interpretasi
1.      Guru meminta siswa untuk membuat tabel yang isinya mengenai kategori macam wujud benda berdasarkan sifat benda yang kemudian di isikan ke dalam tabel.
D.    Prediksi (meramalkan)
1.      Guru memancing siswa untuk mengetahui wujud benda.
Misal :
·      Benda yang menempati ruang dan  mempunyai massa, wujud benda apakah itu ?
·      Benda yang bentuknya tetap, wujud benda apakah itu ?
2.      Guru melalui tanya jawab, memancing siswa untuk menanyakan atau menjawab sebuah ide yang muncul.
·      Misal : Bagaimanakah perubahan wujud benda – benda tersebut ?
E.     Mengajukan Pertanyaan
1.      Guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa. Misal :
·      Pernahkah kamu melihat perubahan wujud di lingkungan kita ?
·      Tahukah kamu keuntungan dari beberapa sifat tadi dalam kehidupan ?
F.      Hipotesis
1.      Guru meminta siswa untuk mengemukakan jawaban dari soal yang ada.
2.      Guru menampung beberapa jawaban yang muncul dari siswa.
G.    Percobaan (eksperimen)
1.      Guru berusaha membuktikan hipotesis yang muncul dengan melakukan eksperimen berupa :
Setelah anak tahu beberapa wujud benda, guru melakukan percobaan dari perubahan wujud benda, bisa berupa mencair, menguap, menyublim, dan lain sebagainya.
2.      Guru berusaha membuktikan hipotesis yang lain berupa kegunaan sifat benda. Misal :
Pemakaian handuk untuk kehidupan adalah jenis wujud benda yang dapat menyerap air. Ban sepeda motor adalah jenis benda yang lentur, sehingga nyaman digunakan.
H.    Menerapkan Konsep
1.      Guru mengajak siswa secara aktif untuk pengamatan langsung dari bahan yang ada, sehingga siswa tahu sendiri konsep / teori yang menyebabkan adanya perubahan wujud dan kegunaan wujud benda tersebut.
I.       Menyimpulkan
1.      Guru bersama – sama dengan siswa menyimpulkan pokok pembelajaran yang telah dilaksanakan.
J.       Mengkomunikasikan siswa untuk menyampaikan hasil yang diperoleh dari percobaa baik secara lisan maupun tertulis.










60 menit

3.
Penutup
1.      Bersama – sama siswa membuat rangkuman belajar dalam sehari.
2.      Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari.
3.      Penilaian terhadap pembelajaran ( baik berupa penilaian tertulis, perbuatan, proyek, sikap, maupun portofolio) dan membimbing siswa merefleksi diri sendiri atas pembelajaran yang telah berlangsung.
4.      Guru memberikan tugas atau PR kepada siswa.
5.      Guru menginformasikan kegiatan belajar yang akan datang.
6.      Guru mengajak siswa untuk berdoa (mengakhiri kegiatan pembelajaran)








5 menit




























MODEL INQUIRI

Kelas/Semester         :   V/II
Materi                        :   Pengaruh Gaya Terhadap Bentuk dan Gerak Suatu Benda
Alokasi Waktu          :   2x35 Menit

A.       Tujuan Pembelajaran :
1.    Melalui tanya jawab, siswa mampu mengidentifikasi gaya serta pengaruhnya secara benar.
2.    Melalui diskusi, siswa mampu menyebutkan macam-macam gaya secara tepat.
3.    Melalui diskusi, siswa mampu mengkategorikan contoh gaya sesuai dengan macam – macamnya secara benar.
4.    Melalui penugasan, siswa mampu mengetahui konsep gaya dalam penggunaanya secara logis.
5.    Melalui kegiatan percobaan, siswa mampu membuktikan hasil yang didapat selama proses diskusi dan penugasan secara kritis.
6.    Melalui percobaan (demonstrasi), siswa mampu menghubungkan adanya gaya dengan faktor yang berpengaruh terhadap gaya itu sendiri secara percaya diri.


B.       Langkah – Langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
 Pendahuluan
1.    Mengajak semua siswa berdoa dan menanyakan kabar mereka.
2.    Mengecek kerapian pakaian, merapikan tempat duduk dan mengecek kehadiran siswa.
3.    Menyerukan yel-yel dan memberi motivasi berupa pemanfaatan benda yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
4.    Memberikan apersepsi berupa mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari (sebelumnya sudah membahas mengenai sifat, wujud, dan kegunaan benda. Maka kali ini akan belajar mengenai “pengaruh gaya terhadap bentuk dan gerak suatu benda”.
Misal :
·      Mengapa benda kursi ketika di dorong dapat berpindah tempat ?
·      Gaya apa yang berpengaruh terhadap kursi yang didorong ?
5.    Menyampaikan tujuan pembelajaran.
6.    Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
5 Menit
Inti
A.      Mengamati/ Observasi/ Orientasi Siswa
1.      Menyampaikan peristiwa mengenai bola yang di lemparkan keatas akan jatuh kebawah, benda magnetis yang didekatkan akan tarik menarik, dan pertemuan ban sepeda dan aspal yang menggelinding.
B.      Merumuskan Masalah
1.      Mengapa benda – benda tersebut apabila di lempar, didekatkan, dan digelindingkan dapat berdampak demikian ?
2.      Apa yang mempengaruhi dari peristiwa – peristiwa tersebut ?
3.      Bagaimana kalian mengetahui “peristiwa” itu disebut “gaya”?.
C.      Menyusun Data/ Kepustakaan
1.      Guru sebagai sumber belajar dan pengatur lingkungan memfasilitasi siswa dengan berbagai sumber referensi belajar yang ada kaitannya dengan materi pembelajaran.
2.      Guru meminta siswa untuk membaca dan menelaah sumber referensi belajar kaitannya dengan materi yang disampaikan.
Misal: Menyuruh siswa untuk membaca mengenai peristiwa yang berhubungan dengan penyajian masalah tersebut.
3.      Guru menjelaskan materi pembelajaran tentang “Pengertian Gaya Terhadap Bentuk dan Gerak Suatu Benda” dengan memancing jawaban siswa dari pertanyaan yang diajukan oleh guru.
D.      Menyusun Hipotesis
Guru berusaha memancing siswa agar dapat memunculkan jawaban yang berhubungan dengan pertanyaan dari guru sesuai dengan tingkat wawasan pengetahuan siswa. Misal:
1.         Karena kalau bola dilempar keatas pasti jatuhnya kebawah, tidak mungkin akan keatas terus menerus. Sedangkan benda magnetik pasti akan tarik menarik, tetapi benda yang non megnetik pasti tolak menolak. Dan ban sepeda pasti akan menggelinding bila sepeda dikayuh sehingga ada gesekan antara ban dan aspal, berbeda bila sepeda tidak dikayuh maka ban akan diam.
2.         Yang mempengaruhinya yaitu adanya dorongan yang berpengaruh.
3.         Karena apabila tidak ada gaya, maka benda tersebut akan diam. Tetapi bila adanya gaya, maka benda dapat bergerak.
E.       Menguji Hipotesis
1.      Guru membagi kelas ke dalam 6 kelompok.
2.      Setiap kelompok mendapatkan lembaran kertas mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan.
3.      Setiap kelompok melakukan percobaan sesuai dengan peristiwa “bola yang di lemparkan keatas akan jatuh kebawah, benda magnetis yang didekatkan akan tarik menarik, dan pertemuan ban sepeda dan aspal yang menggelinding”.
4.      Guru juga menginstruksikan siswa untuk membuktikan sebab akibat (faktor) yang berpengaruh dari peristiwa tersebut dengan seksama.
5.      Guru mengatur jalannya pembelajaran untuk mengembangkan dan membuktikan kebenaran hipotesis dari siswa.
F.       Analisis Data
1.    Menggeneralisasikan  materi pembelajaran:
·           Mengidentifikasi tentang arti gaya dan pengaruhnya (perubahan gerak benda)
·           Perubahan gerak benda dapat diketahui dengan adanya gaya yang diberikan ke benda. Misal: meja ketika didorong maka meja tersebut aka bergeser ke arah gaya yang diberikan, tergantung sebesar gaya yang diberikan.
2.    Mengelompokkan adanya macam – macam gaya yang ada (gaya gravitasi, gaya gesek, dan gaya magnet)
3.    Siswa menarik kesimpulan secara umum dari penggeneralisasian materi pembelajaran.
G.      Kesimpulan:
Guru menyimpulkan laporan hasil pengamatan bersama dengan siswa secara aktif, (pendapat dari masing – masing siswa) dengan tujuan agar semua siswa dapat mencatat kesimpulan dari keseluruhan pembelajaran.

60 Menit
Penutup
1.         Bersama – sama siswa membuat rangkuman belajar dalam sehari.
2.      Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari.
3.      Penilaian terhadap penguasaan materi dan membimbing siswa merefleksi diri sendiri atas pembelajaran yang telah berlangsung.
4.      Guru memberikan tugas atau PR kepada siswa.
5.      Guru menginformasikan kegiatan belajar yang akan datang.
6.      Guru mengajak siswa untuk berdoa (mengakhiri kegiatan pembelajaran)


5 Menit